Pengaruh Parfum

Jika dengan kosmetika kita dapat mempercantik diri, maka meskipun merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kosmetika, parfum tidak mengubah sedikitpun wujud lahiriah kita. Kekuatan parfum justru terletak kepada kemampuannya membangkitkan rangsangan-rangsangan kejiwaan yang amat besar.

Seperti halnya dengan irama musik, aroma dapat menimbulkan hayalan dan imaginasi yang positif maupun yang negatif. Pada berbagai upacara keagamaan aroma digunakan mengantar kita kealam pikiran yang demikian hening, luhur, dan bagitu jauh meninggalkan hal-hal yang bersifat keduniawian. Sebaliknya pada pesta-pesta Orgi yang dilakukan bangsa Romawi dalam memuja Bacchus, Dewa Anggur, aroma justru digunakan untuk membantu merangsang gairah seksual para pesertanya. Orgi adalah pesta pora yang melibatkan pesertanya dalam hubungan seksual bebas. Pengaruh parfum dalam hubungan dengan rangsangan seksual manusia memang telah lama disadari.

Di zaman modern ini, para produsen parfum juga dengan pandainya memberi nama yang cukup “mengarah” atas parfum hasil produksinya misalnya. Misalnya “Love Potion” atau pembangkit cinta; “Tabu” atau terlarang, “Jovan Sex Appeal” atau daya tarik seksual Jovan, dan sebagainya. Nama-nama yang mengandung konotasi gaib penuh daya magis, juga banyak digunakan, seperti “Voodoo”, yaitu nama sebuah upacara keagamaan di Haiti oleh penduduk berasal Afrika; “Vampira” atau hantu penghisap darah manusia; “Magic” alias gaib, dan sebagainya. Salah satu dari merk diatas, bahkan dapat dikatakan dapat membangkitkan naluri hewani yang paling mendasar dari pemakainya.